Saturday, 10 November 2012

wahdatul wujud ibnu arabi



BAB I
PENDAHULUAN

            Dalam ilmu tasawuf yang membahas pendekatan diri manusia kepada Tuhan melaui penyucian Roh ada sebuah tahapan dimana manusia dapat mencapai maghrifah bukan pada tingkatan dapat bersatu dengan Tuhan. Seorang Sufi akan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menempuh jalan penyucian hati. Ia melakukan berbagai latihan rohani dengan berzikir dan berkontemplasi sehingga Tuhan memberi cahaya kepadanya apabila hatinya telah suci. Tahapan demi tahapan ditempuh hingga sampai pada keadaan dimana seluruh kesadarannya lebur dalam kesadaran tentang Tuhan.
            Pembahasan makalah ini lebih kepada wahdatul wujud Ibnu ‘Arabi. Disini penulis akan memaparkan beberapa dalil dari alquran dan hadits yang digunakan oleh para Sufi  tentang penyatuan manusia dengan Tuhan untuk memberi gambara yang jelas mengenai munculnya paham-paham tersebut.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Panteisme : Wahdatul Wujud Tuhan dan Manusia
Wahdatul Wujud telah mewarnai keragaman pemikiran tentang sufistis. Dan juga merupakan tokoh tasawuf yang fenomenal dalam peradaban Islam. Pemikirannya juga spiritualis yang berkelahiran Spanyol kali ini menghentak-hentak kesadaran dan kemapanan. Terlebih tema-tema yang diusung menyangkut hakikat dan makna hidup yang tak pernah berhenti
Wahdah al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdah dan al wujud. Wahdah  artinya sendiri, tunggal atau kesatuan sedangkan al wujud artinya ada. Dengan demikian wahdah al wujud berarti kesatuan wujud.dikalangan ulama klasik ada yag mengartikan wahdah sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi pada bagian yang lebiih kecil. Selain itu kata wahdah digunakan pula oleh para ahli filsafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Tuhan. Pengertian wahdatu wujud yang terakhir itulah yang digunakan para Sufi, yaitu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud.[1]
Wahdatul wujud dalam mistisme Islam atau tasawuf falsafi juga kerap di sebut atau disamakan dengan Panteisme. Panteisme adalah aliran yang menyakini bahwa Tuhan dan mahluk itu satu. Salah satu konsep ketuhanan yang dulu dianut oleh banyak orang pandangan bahwa Allah adalah segalanya dan semua orang, dan segala sesuatu adalah Allah.[2]
Gambaran tentang ajaran al- wahdah al- wujud , al hulul, atau al ittihad  (panteisme) yang di anut oleh semua aliran tasawuf dan tarekat sudah tersebutkan dalam pernyataan tokoh-tokoh Sufi dan tarekat yang sudah kita anggap mewakili semua aliran yang ada di dunia ini, seperti Abu Yazid al Busthami, atau Alhalaj, demikian juga dengan Rabiah al Adawiyah, Abdul Qadir Jailani atau jaluludin Rumi dalam kumpulan syairnya yang berjudul Matsnawi atau al Ghazali, kemudian Abdurahman jami dan Ibnu Arabi.
Dalam berbagai pernyataan yang diungkapkan oleh para tokoh Sufi dari berbagai aliran, banyak ulama dan intelektual muslim yang berpendapat bahwa teori dan dokrin tentang wahdatul wujud atau panteisme adalah inti atau esensi dari seluruh teori atau dokrin sufi.
Filsafat monoisme dengan emanasinya juga menjadi prinsip dasar tasawuf Ibnu Arabi dan Al Halaj. Ibnu Arabi mengatakan bahwa Allah adalah sesuatu dan satu, Dia merupakan wujud yang mutlak, maka nur (cahaya) Allah merupakan bagian dari dirinya. Itulah hakikat Muhammadiyah, itulah kenyataan pertama dalam ketuhanan. Dari hakikat Muhammadiyah itulah terjadi alam dengan segala tingkatannya. Dan dari hakikat Muhammadiyah itulah memenuhi tubuh Adam dan Muhammad. Dan apabila Muhammad telah mati sebagai tubuh namun nur Muhammad atau Muhammadiyah itu tetap ada sebab ia merupakan bagian dari Tuhan. Jadi Allah, Adam, Muhammad adalah satu. Dan insan kamilpun adalah Allah dan Adam pada hakikatnya.[3]
Sementara al Halaj menggambarkan bahwa nur Muhammad atau hakikat Muhamadiyah merupakan suumber kejadian alam semesta dari dirinyalah terpancar segala makhluk di alam ini.[4]
Dalam dunia Kristen filsafat monoisme dengan teori emanasinya dianut oleh aliran neoplatonisme dengan tokoh utamanya Plotinus. Teori plotinus dalam filsafat monoisme dengan nama Plotinus Trinity: (Tuhan Yan Esa à akal à jiwa) plotinus dengan torinya ini mengenal dua jalan:
a.       Jalan menurun (a way sdown) dengan emanas : Tuhan-à akal -à jiwa -à universum yang serba aneka
b.      Jalan menaik ( a way up) dengan panteisme yaitu bersatunya kembali manusia dengan Tuhan : jiwa manusia à jiwa à akal à Tuhan. Panteisme ini hanya dapat dicapai dengan jalan tasawuf

B.     Dalil tentang penyatuan Tuhan dengan Manusia
Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah:  pertama, tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri diri dengan Tuhan adalah roh bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci.
Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan dalam al – Quran dan Hadits ayat 86 dari surat al Baqarah  :
#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Kaum Sufi mengartikan doa disini bukan berdoa, tetapi berseru agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Dengan kata lain, Ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diriNya ke[ada yang berseru. Tentang dekatnya Tuhan digambarkan oleh ayat berikut ini:
¬!ur ä-̍ô±pRùQ$# Ü>̍øópRùQ$#ur 4 $yJuZ÷ƒr'sù (#q9uqè? §NsVsù çmô_ur «!$# 4 žcÎ) ©!$# ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÊÊÎÈ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
            Ayat ini berarti dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tuhan dekat dan Sufi tidak perlu pergi jauh untuk menjumpaiNya. Ayat berikut mengambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia:
ôs)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqóuqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmøs9Î) ô`ÏB È@ö7ym σÍuqø9$# ÇÊÏÈ
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya
            Ayat ini mengambarkan Tuhan bukan berada diluar diri manusia tetapi dalam diri manusia sendiri.[5] Kemudian dalam hadits disebutkan :
من عرف نفسه فقد عرف ربّه
“ siapa yang mengetahui dirinya maka ia akan mengetahui Tuhanya”
            Untuk mengetahui Tuhan Sufi tidak perlu pergi jauh dia cukup masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan Ia  jumpai dalam dirinya sendiri. Dalam konteks inilah ayat ini dipahami oleh Sufi
öNn=sù öNèdqè=çFø)s?  ÆÅ3»s9ur ©!$# óOßgn=tGs% 4 $tBur |MøtBu øŒÎ) |MøtBu  ÆÅ3»s9ur ©!$# 4tGu 4 uÍ?ö7ãŠÏ9ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# çm÷ZÏB ¹äIxt/ $·Z|¡ym 4 žcÎ) ©!$# ììÏJy ÒOŠÎ=tæ ÇÊÐÈ
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
            Disini sufi melihat penyatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahkan tuhan dejkat bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada makhluk lain. Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalu ayat-ayat di atas mengandung arti iitihad dan hulul persatuan manusia dan Tuhan. Hadits terakhir ini mengandung komsep wahdatul wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.
Demikianlah ayat-ayat al Quran  menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluknya yang lain. Gambaran serupa tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan. Dengan khusu’ dan banyak beribadah ia akaln merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan matahatinya dan akhirnya mengalami penyatuan rohnya dengan roh Tuhan dan inilah hakikat tasawuf.

  1. Konsep Wahdatul Wujud Ibnu Arabi
Ibnu ‘Arabi dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Ibn ‘Arabi lahir pada 27 Ramadhan 560 H/ 7 Agustus 1165 M, di Kota Murcia, ibu kota Andalusia Timur (kini Spanyol).[6] Ibnu ‘Arabi bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu ‘Arabi Muhyiddin, dan al-Hatami. Ia juga mendapat gelaran sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar. Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu ‘Arabi. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme ‘Arabi kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan keperibadian Ibnu ‘Arabi. Keperibadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sasetra. Kerana itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.[7]
            Dalam pemikiran Ibnu ‘Arabi Allah adalah khalik bagi seluruh alam. Seluruh yang ada termasuk manusia adalah pancaran iradat Allahh. Inilah yang membawanya kepada suatu simpulan yang menyatakan bahwa alam ini adallah esensi dari Tuhan itu sendiri.  Teori wahdatul wujud ini menegaskan bahhwa variasi bentuk dalam wujud ini pada esensi merupakan substansi wujud Tuhan yang tunggal.
Menurut ibnu ‘Arabi Wahdat al-Wujud (وحدة الوجود) berarti : kesatuan wujud. Faham ini adalah lanjutan dari faham hulul. Dan faham wahdat al-wujud, nasuf yang ada dalam hulul tersebut, dirubah oleh Ibn al-Arabi menjadi Khalq –makhluk– dan lahut menjadi haq ­–Tuhan–. Khalq dan haq adalah dua aspek bagi tiap sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut khalq dan aspek yang sebelah dalam disebut haq.[8]
Ibnu ‘Arabi berpendapat bahwa hakiakat wujud sejati dan realita ( wujud eksternal, entitas, maujud) hanya terbatas pada Allah Swt. Sedangkan sksistensi entitas-entitas lain mersifat metaforis. Dengan kata lain dia menganggap Tuhan sebagai satu-satunya hakikat wujud sekaligus realitas obyektif  dari keadaan. Sedangkan selain Allah hanyalah wujud-wujud simbolis metaforis.[9]
Konsep dasar pertama dari filsafat Ibn ‘Arabi adalah pengakuan bahwa hanya ada dzat tunggal saja, dan tidak ada yang mewujud selain itu. Istilah Arab untuk mewujud-wujud, yang dapat disamakan dengan kepribadian (eksisten). Perbedaan, yang banyak dilakukan di masa kini, antara mewujud dan mengada (being and existence) tidak dilakukan oleh Ibn Arabi. Maka ketika dia mengatakan bahwa hanya ada zat tunggal, menurutnya yaitu :
  1. Bahwa semua yang ada adalah zat tunggal
  2. Bahwa zat tunggal tidak terpecah ke dalam bagiannya
  3. Bahwa tidaklah ada berlebih di sini atau juga tidak kekurangan di sana. Oleh sebab itu, dalam setiap kepribadian tidaklah ada sesuatu kecuali zat tunggal, yang secara mutlak tak terpecahkan / terbagikan (indivisible) dan seragam (homogen).
Zat, oleh sebab itu, menentukan diri sendiri, dan dari hasil dari penentuan diri (ta’ayun) maka pembedaan dan perbedaan akan muncul dalam zat, dan penggandaan akan berkembang dari kesatuan. Tetapi dalam proses ini, zat tidaklah membagi atau juga tidak menjarangkan diri sendiri. Samalah juga dengan zat tunggal yang mengada dalam keseluruhannya, di sini dengan satu bentuk dan di lain tempat dengan bentuk yang lain, tanpa membagi atau menjarangkan diri secara memadai. Sebagai seorang aktor, ia tampak dalam berbagai karakter, dengan nama-nama yang berbeda karakter dengan nama-nama yang berbeda, dan melakukan berbagai fungsi. Ibnu al-Arabi menyamakan penampakan dari sesuatu berbagai air, yang kini berwujud air, atau sebagai es, atau pula sebagai uap. Dan zat juga yang menentukan diri sendiri dalam berbagai bentuk adalah zat Tuhan. Dan tentu tidak bisa lain kecuali Tuhan; baginya tidak akan ada dua zat yang mengada bersama-Nya. Kemudian juga, bahwa zat Tuhan adalah zat dunia; perbedaan di antara keduanya adalah di atur dengan nalar yang sama. Karena Tuhan dan dunia adalah satu zat, maka hubungan antara Tuhan dan dunia tidaklah merupakan hubungan antara sebab dan akibat, atau hubungan antara pencipta dan ciptaan sebagai yang diyakini ahli ilmu kalam, atau hubungan antara yang tunggal dengan yang emanasi (pancaran-Nya)
Menurut Hamka, Ibnu ‘Arabi dapat disebut sebagai orang yang telah sampai pada puncak wahdatul wujud. Dia telah menegakkan pahamnya dengan berdasarkan renungan pikir dan filsafatdan zauq tasawuf. Ia menyajikan ajaran tasawufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit dengan tujuan untuk menghindari tuduhan, fitnah, ancaman, kaum awam sebagaimana yang dialami al Halaj.[10]
Baginya wujud yang ada itu hanya satu. Wujud makhluk adalah ‘ain ujud khaliq. Pada hakikatnya tidak ada pemisah diantara manusia dan Tuhan. Kalau dikatakan berlainan antara  khalik dan makhluk itu hanyalah lantaran pendeknya pahan dan akal dalam mencapai hakikat. Dalam Futuhat al Makkah sebagai kitab yang dikarangnya, Ibn Arabi berkata sebagai berikut:
“ wahai yang menjadikan segala sesuatu pada diirinya Engkau bagi apa yang yang Engkau jadikan, mengumpulkan apa yang Enkau jadikan barang yang tak berhenti adanya pada Engkau maka Engkaulah yang sempit dan yang Lapang”. Pada bagian lain dari kitabnya itu Ibn Arabi mengatakan bahwa wujud alam ini adalah ‘ain wujud Allah. Allah itu adalah hakikat alam. Tidak ada disana perbedaan antara wujud yang qadim yang di sebiut Khalik dnegan wujud yang baru yang disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antar ‘abid (manusia yang menyembah) dengan ma’bud (Tuhan yang disembah). Perbedaan itu hanya rupa dan ragam sedangkan esensi dan hakikatnya sama.[11]
Konsep sentral dari teori wahdah al wujud Ibn ‘Arabi ini adalah tajalliat al Haq, yakni menampakkan diri Allah melui penciptaanalam, kata jalli dalam term Ibn ‘Arabi identik dengan konsep faidh (emanasi, pelimpahan). Konsep dasar inilah yang secara ontologis menghubungkan antara khalik dengan makhluk, yakni yang satu menjadi banyak. Dzat Allah yang asli tetap azali  dan transenden secara absolut.
Ibnu ‘Arabi merupakan figur representatif yang mengikuti jejak pendahulunya, al Halaj. Ia juga beranjak dari pembacaan diatas Tuhan yang menurutnya tidak dapat terlihat oleh siapapun (visible to no one). Ia menolak klaim para Sufi yang mengaku melihat Tuhan dalam keadaan ekstasi atau fana’ mereka.

  1. Karya-karya Ibn al-‘Arabi
Pertama-pertama karya Ibn al-Arabi, sebenarnya sebuah risalah doktrin yang bersifat metafisis dan ma’rifat (tanpa suatu pengenalan awal lebih dahulu) yang mengambil al-Qur’an dan sunnah sebagai sumbernya. Karena penguasaannya yang dapat dikatakan sebagai penafsiran yang berwenang menjelaskan doktrin-doktrin esoteric (tasawuf) Islam. Yang terlihat dengan “Misykat al-Anwar” yang terjemahannya sempurna. Dan ada karya-karya yang lain, yang sangat penting adalah “futuhat” dan “fushush al-hikam”. Dari keduanya, hanya fushush al-hikam yang diterjemahkan oleh Titus Burckharat, bagi orang orang berbahasa Arab, teks-teks yang segera bisa didapatkan adalah kedua karyanya “Klineire Scriften des Ibn al-Arabi” (Leyden, 1849) yang di cetak dalam Rasa’il Ibn al-Arabi (Hyderabad, 1947). Belakangan ini “Tarjamun al-Asywaq” yang diterbitkan di Beirut (1961) dan Diwan juga telah diterbitkan kembali.
Dan ada salah satu karyanya yang hilang tidak satupun ditemukan ringkasan (ikhtisharaf), “Bukhari, Muslim, Tirmidzi”. Sedangkan karya kitab “Miftah as-Sa’adah” itu juga hilang dan kitab yang berjudul “al-Misbah fi Jam bayna Shihab”. Dalam karangan Misykatul yaitu kitab “al-Arba’ inath-Thiwalat” pada tahun 599/1202 terminus ad quem dan beberapa hadits yang masih ada seperti, “Misykat al-Ma’qul al-Muqtabasah Min-nural Manqul” yang terdiri dari 9 bab. Dan di dalam karya ini ada keistimewaannya tersendiri, yaitu beliau hanya menekuni hadits-hadits “quds”, yaitu hadits-hadits di mana Rasul (semoga turun atas berkatnya dan kedamaian abadi), menyikapi kalimat-kalimat disebutkan berasal dari Allah sendiri.




KESIMPULAN
            Persatuan dengan Tuhan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi atau hal yang terlarang dalam Islam untuk mengupayakannya. Penyatuan dengan Tuhan adalah upaya manusia untuk  selalu dekat dengan Tuhan. Tentu saja mereka tidak bermaksud menentang ajaran Tuhan. Tuhan juga tidak akan membiarkan hambanya yang sudah dekat denganNya meninggalkan ajaran-ajaranNya.
Bila melihat uraian diatas dapat dinyatakan bahwa ajaran ittihad dan hulul serta wahdatul wujud adalah sama yakni ketiganya menginginkan tercapainya penyatuan dua zat, makhluk dan khalik meskipun terjadi sedikit perdepatan dalam penyatuan tersebut.  Hulul menempatkan zat Tuhan dalam zat makhluk, sedangkan ittihat yang asalnya beragam kemudian menjadi satu baik dengan jalan bahwa salah satu teap sedangkat zat yang lain hilang Atau tetapnya dua zat yang kemudian menyatu. Dan wahdatul wujudadalah penyatuan Tuhan dan manusia. Tuhan menampakkan dirinya melalui penciptaan alam, teori yang ketiga ini identik dengan konsep Ibnu ‘Arabi.















DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abudin Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Labib, Muhsin Mengurai Tasawuf, Irfan, & Kebatinan, Jakarta: Lentera Basritama, 2004
Hamka, Tasawuf perkembangann dan pemurniannya, Jakarta: 1980
nasution, Harun  Islam Ditinjau Dari  Berbagai Aspek, UI-Press: Jakarta
 ‘Arabi, Ibn Bercengkrama Bersama Kaum Sufi , terjemahan, Bandung: Mizan, 2002
Abd. Haq anshari, Muhammad, Antara Sufisme Dan Syari’ah, jakarta: Rajawali, 1990
Rambu-rambu Tuhan Ibn Arabi, 2010, diakses 20 Oktober dari situs /ummahonline.com.htm
Wahdatul wujud,  2009, diakses 20 Oktober 2011 dari situs /ibn-arabi-dan-wahdatul-wujud.html



[1] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal 247
[2] Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf, Irfan, & Kebatinan, (Jakarta: Lentera Basritama, 2004), hal 87
[3] Hamka, Tasawuf perkembangann dan pemurniannya, (Jakarta: 1980) hal 146
[4]  Hamka, Tasawuf perkembangann dan pemurniannya, hal 115
[5] Harun nasution, Islam Ditinjau Dari  Berbagai Aspek, (UI-Press: Jakarta, 1985), hal 72
[6]  Ibn ‘Arabi, Bercengkrama Bersama Kaum Sufi ( Bandung: Mizan, 2002), hal 9
[7] Rambu-rambu Tuhan Ibn Arabi, 2010, diakses 20 Oktober dari situs /ummahonline.com.htm
[8]  Wahdatul wujud,  2009, diakses 20 Oktober 2011 dari situs /ibn-arabi-dan-wahdatul-wujud.html
[9] Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf, Irfan, & Kebatinan, ... hal 83
[10] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, ... hal 256
[11] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, ... hal 256

1 comment:

  1. penyerupaan dan penafian, ya & tidak, ketika melihat segala maujud maka itu Tuhan dan sekaligus bukan Tuhan, seperti ungkapan Ia adalah segala sesuatu sekaligus bukan segala sesuatu. Segala sesuatu/entitas/wujud, adalah penampakkan identitasNya bukan esensiNya. Sehingga kalimat 'Allah ada di dalam diri manusia juga bukan pada esensiNya tapi pada tajalli sifat & namaNya saja. Sang Esensi tetap tidak dapat digambarkan, dibayangkan, dipikirkan, diserupakan & ditunjuk, sehingga seperti yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad sendiri bahwa beliau mengenali Allah lewat pengenalan Allah juga terhadap diriNya sendiri. Sifat & namaNya itulah yng disebut hakikat Muhammadiyah.

    Jadi tuduhan pantheisme pada ajaran Ibnu Arabi sebenarnya tidak tepat juga. Toh pada akhirnya beliau juga sampai pada kesimpulan yang sama dengan sufi2 lain bahwa kesadaran ruhaniah tidak dapat dicapai tanpa mukasyafah & spektrumnya ada serta terjadi di alam rasa, bukan alam imajiner apalagi akal.

    ReplyDelete